FK Unair- Duka menyelimuti prosesi persemayaman seorang Guru Besar Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Prof. Petrus  Budi Santoso, dr., Sp.S(K) di Aula FK Unair... | FK Unair- Bergerak dari lingkup terkecil di lingkungan sekitar kampus, Mahasiswa FK Unair gabungan dari berbagai program studi bersatu menghidupkan tradisi pemberian susu gratis kepada anak-anak... | FK Unair- Sosoknya begitu berwibawa dan punya dedikasi luar biasa, demikian Prof. Paulus Liben, dr., MS menggambarkan sosok pribadi  mendiang Prof. Dr. Lukas Widyanto, dr., AIF , Guru Besar Ilmu... |
Faculty Of Medicine Airlangga University
You are here: Home News Headline News Seminar Dilema Stem Cell : Akankah Diterima?

Faculty Of Medicine Airlangga University

Seminar Dilema Stem Cell : Akankah Diterima?

E-mail Print PDF
FK Unair- Minat di beberapa negara seperti Amerika, Swedia, Singapura dan kanada terhadap penerapan stem cell atau sel induk sebagai salah satu inovasi dalam dunia kedokteran jelas meningkat dalam beberapa dekade terakhir ini. Hal tersebut disebabkan karena potensi stem cell yang semakin menjanjikan untuk solusi terapi, sehingga menyuguhkan harapan baru dalam pengobatan berbagai penyakit. Namun isu penelitian dan penggunaan stem cell yang masih menimbulkan kontroversi dari berbagai sudut pandang (Agama dan Bioetika) ini adalah digunakanya ‘embrio manusia’ buah hasil dari pengklonan, hasil abortus,dan zigot sisa IVF.

Sejauh ini terapi kesehatan yang telah diupayakan di Indonesia masih menggunakan cara tradisional dan kurang memberikan hasil yang maksimal, sehingga dibutuhkan adanya solusi alternative lain yang mampu memberikan hasil yang lebih optimal dari sebelumnya.
Penerapan Stem cell di Indonesia masih menjadi tanda tanya besar, karena masih akan terbentur dengan berbagai sistem perundang-undangan di Indonesia. Dibutuhkan adanya kesepakatan dan keseimbangan tujuan dari sudut pandang Agama, Bioetik, dan riset yang berlaku di Indonesia sehingga keberadaanya benar-benar bisa diterima masyarakat.

Melalui seminar sehari bertajuk “Dilema Etik, Riset, dan Penerapan Stem cell Dalam Bidang Kesehatan Di Indonesia” di Ruang utama GRAMIK FK Unair (29/8) drg. Ketut Suardita PhD sebagai salah satu pembicara memaparkan manfaat stem cell sebagai solusi pengobatan masa depan.
Menurutnya, stem cell merupakan sel yang belum memiliki spesifikasi. Sel tersebut bisa berubah menjadi sel lain yang lebih spesifik. “Stem cell mempunyai kemampuan memproduksi sel yang sama dengan sel itu sendiri serta berdiferensiasi menjadi paling sedikit satu tipe sel” demikian drg. Ketut mengatakan.

Di bidang kedokteran,tambah drg. Ketut, stem cell (sel induk) merupakan terapi regeneratif yang sangat besar manfaatnya. Sel tersebut dipergunakan untuk pembentukan sel pankreas baru untuk penderita diabetes, sel miokard (otot jantung) baru untuk penderita infark jantung dan gagal jantung, dan membantu mengatasi berbagai penyakit degeneratif system saraf pusat. Misalnya, stroke iskemik, Parkinson‘s ‘disease, dan Alzheimer.

Banyak harapan yang dapat dimunculkan dari penelitian stem cell embrio (Embryonic stem cell), karena sel itu mempunyai potensi untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel yang menyusun berbagai jenis organ tubuh. Sel demikian, yang juga disebut stem cell totipoten (SCT), ditemukan pada jaringan embrio dan pada jaringan tertentu makhluk dewasa seperti sumsum tulang merah dan sel kelamin. Sel darah yang diperoleh dari tali pusat bayi baru lahir juga mempunyai kemampuan menjadi stem cell. Sementara ini sumber stem cell yang banyak dipakai untuk berbagai jenis penelitian berasal dari embrio tingkat blastosis. manfaat yang diperoleh dari penggunaan SCT dalam bidang kedokteran amat besar, namun sumber SCT tersebut merupakan suatu masalah etika yang perlu mendapat perhatian.

Karena embryonic stem cell (ESC) masih menyisakan banyak pertanyaan antara lain mempermasalahkan kepemilikan embrio, dan dianggap sebagai pelanggaran HAM maka sebagai solusi pertimbangan lain, diperkenalkan pula solusi Xenotransplantation yang diartikan sebagai ‘mentransplantasi’ stem cell dari sel hewan ke tubuh manusia.
Namun sekalipun xeno stem cell lebih dianggap tak beresiko dari sisi HAM, namun solusi ini masih tetap meninggalkan tanda tanya antara lain kemungkinan adanya resiko penularan penyakit dari sel hewan yang dapat mengkontaminasi tubuh manusia.

Kepala Unit Bioetika FK Unair Prof. H. M Sajid Darmadipura, dr., Sp.S., Sp.BS dalam seminar menelaah stem cell dari sudut pandang Bioetika.
Menurutnya, sejauh ini banyak sekali kasus penyakit di Indonesia yang belum bisa teratasi dengan baik, dan stem cell merupakan solusi untuk menjawab permasalahan tersebut.
Dengan mengembangkan penelitian stem cell secara continue diharapkan nantinya dapat menemukan hasil yang terbaik.

Di lain sisi, menanggapi keberadaan stem cell sebagai solusi pengobatan masa depan Dekan FK Unair Prof. Dr. Muhammad Amin, dr, Sp.P(K) menyampaikan pengharapan agar stem cell bisa direkomendasikan menjadi bahan penelitian lebih lanjut.

Rencananya, seminar ini akan berlanjut pada tahap pertemuan yang akan mengupayakan pematangan konsep stem cell dengan berbagai pihak yang terkait untuk mencapai sebuah kata ‘sepakat’ dalam penerapan stem cell di Indonesia.
(Mo)
Last Updated ( Monday, 08 March 2010 18:11 )  
Randowm ArticlesRelated Articles

Add comment

Security code
Refresh

Search

Histats

Statistics

Members : 327
Content : 1872
Web Links : 39
Content View Hits : 3044036

RSS Syndicator

focus
Head Line News
Kilasan

UPeDDi

UPeDDi merupakan unit pengelola sistem & teknologi informasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. UPeDDi telah mengembangkan serangkaian layanan, Next

PBL Tramed

 Upaya keras perbaikan proses pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga telah dilakukan sejak tahun 2000. Berdasarkan analisis Next

Bioteika

 Bioetika adalah penjelmaan dari Etika Kedokteran yang sudah tidak mampu lagi menampung permasalahan-permasalahan yang berkembang Next

Visi Misi

Menjadikan FK Unair sebagai salah satu fakultas kedokteran terkemuka di kawasan regional ASEAN, pemuka dalam bidang pendidikan, pemuka Next ......