FK Unair- Diabetes melitus (DM) atau kencing manis merupakan suatu penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikurangi dan dikontrol kadar gula darahnya. WHO memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes yang cukup besar pada tahun-tahun mendatang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia tahun 2003, diperkirakan penduduk Indonesia yang berusia diatas 20 tahun sebanyak 133 juta jiwa. Dengan prevalensi DM sebesar 14,7% pada daerah urban dan 7,2%, pada daerah rural, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat sejumlah 8,2 juta penyandang diabetes di daerah urban dan 5,5 juta di daerah rural.
Selanjutnya, berdasarkan pola pertambahan penduduk, diperkirakan tahun 2030 nanti akan ada 194 juta penduduk berusia diatas 20 tahun dengan asumsi prevalensi DM pada urban (14,7%) dan rural (7,2%), maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang DM di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural. WHO memprediksi kenaikan penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Inilah yang menempatkan Indonesia menduduki rangking ke-4 dunia setelah Amerika Serikat, India dan Cina.
Demikian promovendus Dr. Kusnanto, S.Kp.,M.Kes, dosen Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga, dalam ujian terbuka untuk meraih Gelar Doktor dalam Program Studi S3 Ilmu Kedokteran di Fakultas Kedokteran Unair, Kamis 10 Mei 2012. Dalam uji-public yang dipimpin Prof. Dr. Teddy Ontoseno, Sp.A(K)., SpJP., FIHA, di Aula FK Unair itu, Kusnanto, mahasiswa S3 Program IK tahun 2008 ini lulus Doktor dengan predikat Cumlaude.
Dengan tesis berjudul ”Pengembangan Model Self Care Management-Holistic Psychospiritual Care Terhadap Respon Holistik Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2”, Kusnanto merupakan Doktor ke-584 Program Ilmu Kedokteran FK Unair, atau Doktor ke-4 pasca Program Pascasarjana Unair dialihkan ke fakultas. Sebelumnya dosen FK Unibraw, Dr. Yuyun Yueniwati PW, dr., M.Kes., SpRad., juga telah lulus dengan predikat Cumlaude.
Meningkat Signifikan
Menurut promovendus, penderita DM di Indonesia meningkat secara signifikan, lebih dari 90% merupakan DM tipe 2. Hal itu dipicu oleh faktor-faktor, seperti keturunan (genetik), faktor kegemukan (obesitas) yaitu sebagai dampak perubahan gaya hidup dari tradisional ke gaya hidup modern (Barat), makan berlebihan dan hidup santai, kurang gerak badan. Selain itu juga faktor demografi, yaitu jumlah penduduk meningkat, urbanisasi dan penduduk berumur diatas 40 tahun meningkat, serta berkurangya penyakit infeksi dan kurang gizi.
DM merupakan penyakit menahun yang akan diderita seumur hidup. Apabila tidak ditangani dengan baik bisa mengakibatkan timbulnya komplikasi, diantaranya gangguan pembuluh darah pada jantung (penyakit jantung koroner), ginjal (gagal ginjal), mata (katarak, retinopati), luka yang sulit sembuh (gangren), sistem syaraf (mati rasa), impotensi, mudah terkena infeksi (WHO, 2006). Sebaliknya jika DM terkontrol baik, akan menghambat/ mencegah keluhan fisik akibat komplikasi akut maupun kronis yang kemungkinan besar akan berdampak pada aspek-aspek kehidupan dari penderita, baik fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
Kondisi seperti ini membutuhkan strategi yang komprehensif dan holistik dengan memberdayakan penderita agar dapat mengelola penyakitnya secara mandiri, untuk meningkatkan pengetahuan, memperbaiki sikap serta merubah perilaku untuk meningkatkan kondisi kesehatan, mencegah komplikasi, dan menurunkan prevalensi. Karena pada dasarnya, penderita bertanggungjawab atas pengelolaan day-to-day care atas penyakitnya, karena keberhasilan dalam penanganan penyakit DM tergantung pada diri penderita sendiri.
”Agar dapat mengelola penyakitnya secara efektif, penderita harus mampu memperbaiki gaya hidupnya, diantaranya perencanaan makan, latihan jasmani, penggunaan obat hipoglikemik secara teratur, pengontrolan berat badan, pemantauan kadar glukosa darah atau urin, dan yang terakhir adalah dengan pengontrolan kondisi emosi dan psikis penderita,” kata Kusnanto.
Melalui pengembangan modul pengelolaan diabetes mandiri yang diaplikasikan dalam pengembangan model self care management-holistic psichospiritual care dapat memfasilitasi peningkatan pengetahuan penderita tentang DM dan pengelolaannya secara komprehensif, membentuk sikap yang utuh (total attitude), dan merubah perilaku sesuai pengetahuannya dalam menghadapi penyakit kronis, sehingga akan berpengaruh pada perbaikan kondisi kesehatan secara optimal. Selain itu modul pengelolaan diabetes mandiri juga dapat menjembatani komunikasi antara tenaga kesehatan (dokter, perawat, ahli gizi, dll.) dengan penderita diabet.
Pengembangan model Self Care Management - Holistic Psychospiritual Care merupakan bentuk intervensi pengelolaan diabetes secara mandiri yang komprehensif dengan penekanan pada aspek psikologis dan spiritual. Melalui model Self Care Management - Holistic Psychospiritual Care, kontrol stres penderita DM dapat lebih baik dengan koping yang konstruktif, penderita dapat memaknai secara positif penyakit yang sedang dideritanya karena penderita lebih bertawakal, dan hubungan interpersonal meningkat karena penderita mau bergabung dalam paguyuban (PERSADIA).
”Strategi ini merupakan kombinasi kekuatan antara energi spiritual dan energi psikologi yang dapat memperbaiki kondisi pikiran emosi dan perilaku penderita DM, yang pada akhirnya glukosa darah dapat teregulasi baik dan HbA1c menurun dalam batas normal,” demikian Dr. Kusnanto, S.Kp., M.Kes.
| < Prev | Next > |
|---|





