{mosimage}FK Unair- Guru Besar Urologi Prof. H. Widjoseno Gardjito, dr.,SpB, SpU (K) menutup masa baktinya setelah mengabdi selama 45 tahun sebagai dokter dan 20 tahun sebagai guru besar. Dalam orasi perpisahan yang bertepatan dengan peringatan 95 Tahun Pendidikan Dokter Surabaya di Aula Fakultas Kedokteran Unair Kamis (14/8).
Dengan adanya hambatan tersebut, kata dia, maka yang paling tepat adalah menggunakan konsep shared care. Konsep ini sudah terbukti berhasil dikembangkan di UK, dan sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Strategi shared care berhasil meningkatkan perhatian dokter umum pada masalah beberapa penyakit urologi ,terutama kelainan prostat. Konsep ini terbukti berhasil meningkatkan kualitas hidup para pasien penyakit prostat. Dengan kemajuan di bidang bioteknologi obat-obatan, untuk kasus-kasus urologi seperti LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms), OAB (Overactive Bladder), disfungsi Ereksi, penyakit batu saluran kemih, dan sebagainya memungkinkan dikembangkannya konsep ini.
“Dengan konsep berbagi ini, diharapkan ahli urologi dapat mendidik ahli urologi muda atau menajamkan keilmuannya sehingga dapat meningkatkan kemampuannya sebagai ahli urologi dan lebih lanjut lebih memanusiawikan pasien,” katanya.
Namun konsep ini perlu didefinisikan secara jelas dan disebarluaskan dengan hati-hati dan dilaksanakan secara etis. Konsep ini perlu penjabaran serta pelaksanaannya masih harus dibahas secara mendalam dan disempurnakan melalui evaluasi dan umpan balik secara berkelanjutan.
Memasyarakatkan Vasektomi Bermetode vas occlusion.
Prof.Dr.Widjoseno Gardjito,Sp.B.,Sp.U(K) dalam orasi perpisahannya sebagai guru besar juga menyampaikan uraian tentang kontrasepsi pria. Menurutnya, vasektomi atau yang biasa dikenal sebagai kontrasepsi mantap pria (VTP) ternyata tidak lagi melalui operasi atau pembedahan. Kekhawatiran para pria terutama akan efek samping dan menurunnya fungsi seksual dari vasektomi terkadang membuat banyak pria mengurungkan diri untuk melakukan kontrasepsi melalui vasektomi.
Padahal menurut Profesor yang telah menjadi guru besar bidang urologi sejak 20 tahun lalu itu vasektomi ini merupakan metode kontrasepsi yang aman, efektif dan bebas sayatan. “Selain aman, efektif dan tidak memerlukan pembedahan, integritas vas deferens tetap terpelihara hingga membuat akseptor merasa lebih nyaman,”jelas Prof. Widjo.
Menurut Prof. Widjo, kontrasepsi dengan Vasektomi tidak memberikan pengaruh terhadap fungsi seksual. Sebab proses ejakulasi pasca vasektomi akan tetap berjalan normal. Meski sperma yang keluar hanya 5% namun volume cairan tidak akan berkurang. “Volumenya tetap meski vas deferensnya sudah diputus. Dan itu tidak akan menurunkan gairah seksual sama sekali,”ujarnya.
Teknik Vasektomi yang sedang dikembangkan di Indonesia saat ini adalah dengan mencoblos vas deferens dan menyuntikkan intra vasal bahan Medical Grade Silicon Rubber (MSR) atau disebut dengan metode vas occlusion.
Vasektomi adalah sistem kontrasepsi yang permanen. Menariknya, meski bersifat permanen, namun masih memungkinkan jika mereka menginginkan vas deferensnya tersambung kembali. Asal vasektomi masih berusia kurang dari 10 tahun. “Kadang kan mereka yang sudah vasektomi ternyata pingin punya anak atau mungkin menikah lagi. Bisa disambung lagi (vas deferensnya,red). Nanti kita akan menggunakan teknik bedah mikro untuk menyambungnya,”jelas Prof. Widjo.
Prof. Widjoseno bersama tiga ahli urologi lainya, Djoko Rahardjo, Sungsang Rochadi dan Rudi Yowono telah memperoleh sertifikat master trainer untuk teknik VTP dan telah berhasil mempraktekkanya pada puluhan akseptor. Bersama ketiga rekannya itu, ia menyebarkan penggunaan teknik ini ke para peserta pelatihan vasektomi di Indonesia. Saat ini meode VTP menjadi metode standar vasektomi di Indonesia.
Dalam orasi yang bertepatan dengan peringatan 95 Tahun Pendidikan Dokter di Surabaya itu, Prof. Widjo berpesan agar para ahli urologi giat mengadakan studium generale untuk memperkaya pengetahuannya. Dengan duduk bersama dan melakukan transfer of knowledge, diharapkan mampu meningkatkan kepekaan, baik kepekaan dalam menangkap perkembangkan keilmuan, maupun kepekaan terhadap transformasi budaya dan perkembangan teknologi yang semakin canggih.
Memasyarakatkan dan mengembangkan metode kontrasepsi vasektomi di Indonesia merupakan bentuk upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam mendukung program KB di Indonesia.
(Mo)
| < Prev | Next > |
|---|





