FK Unair - Angka penderita Nasopharynx Cancer (NPC) di Indonesia semakin meningkat, tercatat tingkat insidensi NPC mencapai 4-6 penderita per 100.000 populasi.Yogyakarta terpilih sebagai daerah endemik NPC terbesar di Indonesia, dan NPC termasuk penyakit kanker urutan ketiga yang paling banyak ditemui di Indonesia dan Asia Tenggara.
Melalui acara seminar Transplantasi yang diadakan di Gedung Aula FK Unair (18/10), Wakil Dekan Bidang Riset, Pengembangan dan Pasca sarjana FK UGM Prof.dr. Sofia Mubarika, M.Med.Sc., Ph.D. mengemukakan saat ini Tim peneliti kanker Nasopharynx Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan RS Dr Sardjito Yogyakarta berhasil mengembangkan sebuah metode diagnostik deteksNPC, fk unair, i dini NPC terbaru yang diberi nama metode ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay).
Metode tersebut menggunakan kombinasi dua antigen, yaitu VCA (Viral Capsid Antigen)-p18 dan EBNA (Epstein Barr Nuclear Antigen 1), yang ditemukan pada orang yang terifeksi virus Epstein Barr Virus (EBV), penyebab NPC.
Diungkapkan,Teknik ELISA yang dilakukan dengan prinsip pengujian reaksi antara antigen dan antibodi, dipilih karena merupakan teknik yang relatif sederhana dan hampir semua laboraturium kesehatan di setiap daerah dapat mengerjakannya. Dan metode ELISA terbukti memiliki Tingkat spesifisitas dan sensitivitas deteksi yang tinggi, yakni mencapai 90,4 persen, penggunaan antigen tersebut juga lebih efisien dalam penanganannya serta biaya yang lebih murah hingga 40 persen dari biaya yang ada.
Sejauh ini banyak dari kalangan masyarakat kurang bisa mengenali gejala dini penyakit tersebut, minimnya kewaspadaan mereka berdampak pada tingginya jumlah penderita yang datang ke dokter pada saat stadium lanjut. dan hasilnya pengobatan tersebut tidak berjalan optimal.
Deteksi dini ini sangat diperlukan karena NPC yang disebabkan virus Epstein Barr Virus (EBV) tersebut merupakan penyakit dengan tingkat penderita tertinggi pada laki-laki, dan nomor tiga tertinggi pada perempuan. EBV adalah virus DNA yang terbukti telah menginfeksi lebih dari 95 persen populasi manusia di dunia. Meski demikian, tidak semua orang yang terinfeksi EBV akan menderita NPC tergantung dari kualitas antibody setiap individu.
Prof. Rika mengatakan, saat ini penyebab NPC yang ditandai dengan munculnya benjolan di leher tersebut bukan hanya disebabkan oleh Virus EBV saja, faktor lingkungan yang telah terkontaminasi hingga 95 persen, serta pengaruh dari asap rokok juga dapat memiju terjangkitnya penyakit tersebut.
“sebelumnya sebagian besar penderita NPC hanya dari kalangan dewasa saja, namun sekarang banyak dari kalangan remaja yang juga mengidap penyakit itu, hal tersebut dipicu karena tingginya tingkat konsumsi rokok dikalangan remaja” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, tambahnya, saat ini Tim Penanggulangan kanker sedang berupaya membangun sebuah “teamwork nasional” dalam bentuk tim jejaring dari setiap institusi Perguruan tinggi di Indonesia , yang kemudian secara bersama-sama melakukan upaya pengembangan dan pengelolaan metode tersebut ke setiap lingkungan institusi.
“melalui sebuah teamwork yang saling bekerjasama serta dukungan dari Pemerintah, diharapkan kebutuhan masyarakat akan sebuah produk nyata sebagai solusi kesehatan dapat segera terpenuhi, secara cepat dan tepat “ungkapnya.
Merealisasikan Tumpukan Buku Penelitian Menjadi Sebuah Wujud Nyata
Dalam seminar Transplantation yang juga merupakan salah satu rangkaian acara peringatan 95 Tahun Pendidikan Dokter Di Surabaya, Prof. Dr. Amin Soebandrio, dr., Sp.MK Staff Deputi Bio Pengembangan SIPTEKNAS Kementerian Riset dan Teknologi melalui presentasinya yang berjudul “Arah Kebijakan Penelitian Di Indonesia” memaparkan tentang sejauh mana pemanfaatan penelitian yang sudah dilakukan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Beliau mengatakan saat ini jumlah dosen di Indonesia adalah sebanyak tiga belas ribu orang dan delapan ribu orang peneliti, hal tersebut mengidentifikasikan bahwa jumlah penelitian yang dihasilkan sangat banyak dan bervariasi. Namun ironisnya dari sekian banyak hasil penelitian yang sudah dilakukan hanya berakhir menjadi tumpukan buku laporan penelitian tanpa adanya realisasi hasil penelitian.
Saat ini Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 200 triliyun untuk mendukung program penelitian di Indonesia, dengan perhitungan pemerintah menyediakan sepuluh ribu paket riset dengan dana sebesar 100 juta bagi setiap dosen perguruan tinggi negeri, dan delapan ribu paket riset untuk peneliti di lingkungan LIPI, BPPT, juga badan penelitian dan pengembangan berbagai instansi untuk mencapai agenda riset nasional.
Di lain sisi, hal yang dipermasalahkan sejauh ini adalah sejauh mana pemanfaatan hasil penelitian selama ini,apakah sudah dapat diaplikasikan secara nyata untuk kepentingan masyarakat, atau hanya sebatas pada bentuk laporan penelitian saja.
menanggapi hal tersebut prof. Amin menyampaikan bahwa penyebab ketidak efektifan hasil riset di Indonesia adalah karena sejauh ini proyek penelitian yang diajukan hanya sebatas pada minat peneliti saja (Individu), sehingga berdampak pada tidak terjalinnya komunikasi yang baik antar peneliti.
Untuk itu, tambahnya, pada tahun 2010,pemerintah akan menggunakan system “Semi Top Down” dimana pemerintah yang akan menentukan produk atau target yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan diharapkan dapat dikerjakan secara bersama-sama antar dosen atau peneliti dalam bentuk Teamwork Sehingga diharapkan dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun kedepan tujuan tersebut dapat terealisasi secara tepat dan maksimal, serta menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Ditambahkan bahwa, dari setiap perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan berbagai bentuk keunggulan yang dimiliki, sehingga menjadi sebuah program unggulan Perguruan tinggi yang pantas disebarluaskan dan direalisasikan untuk kepentingan masyarakat, selain itu juga setiap perguruan tinggi diharapkan mampu menguasai dan mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan dilingkungan sekitar perguruan tinggi, sehingga memudahkan setiap Perguruan tinggi untuk menentukan sebuah produk yang dibutuhkan masyarakat.
(Mo)
Diungkapkan,Teknik ELISA yang dilakukan dengan prinsip pengujian reaksi antara antigen dan antibodi, dipilih karena merupakan teknik yang relatif sederhana dan hampir semua laboraturium kesehatan di setiap daerah dapat mengerjakannya. Dan metode ELISA terbukti memiliki Tingkat spesifisitas dan sensitivitas deteksi yang tinggi, yakni mencapai 90,4 persen, penggunaan antigen tersebut juga lebih efisien dalam penanganannya serta biaya yang lebih murah hingga 40 persen dari biaya yang ada.
Sejauh ini banyak dari kalangan masyarakat kurang bisa mengenali gejala dini penyakit tersebut, minimnya kewaspadaan mereka berdampak pada tingginya jumlah penderita yang datang ke dokter pada saat stadium lanjut. dan hasilnya pengobatan tersebut tidak berjalan optimal.
Deteksi dini ini sangat diperlukan karena NPC yang disebabkan virus Epstein Barr Virus (EBV) tersebut merupakan penyakit dengan tingkat penderita tertinggi pada laki-laki, dan nomor tiga tertinggi pada perempuan. EBV adalah virus DNA yang terbukti telah menginfeksi lebih dari 95 persen populasi manusia di dunia. Meski demikian, tidak semua orang yang terinfeksi EBV akan menderita NPC tergantung dari kualitas antibody setiap individu.
Prof. Rika mengatakan, saat ini penyebab NPC yang ditandai dengan munculnya benjolan di leher tersebut bukan hanya disebabkan oleh Virus EBV saja, faktor lingkungan yang telah terkontaminasi hingga 95 persen, serta pengaruh dari asap rokok juga dapat memiju terjangkitnya penyakit tersebut.
“sebelumnya sebagian besar penderita NPC hanya dari kalangan dewasa saja, namun sekarang banyak dari kalangan remaja yang juga mengidap penyakit itu, hal tersebut dipicu karena tingginya tingkat konsumsi rokok dikalangan remaja” ungkapnya.
Sebagai tindak lanjut, tambahnya, saat ini Tim Penanggulangan kanker sedang berupaya membangun sebuah “teamwork nasional” dalam bentuk tim jejaring dari setiap institusi Perguruan tinggi di Indonesia , yang kemudian secara bersama-sama melakukan upaya pengembangan dan pengelolaan metode tersebut ke setiap lingkungan institusi.
“melalui sebuah teamwork yang saling bekerjasama serta dukungan dari Pemerintah, diharapkan kebutuhan masyarakat akan sebuah produk nyata sebagai solusi kesehatan dapat segera terpenuhi, secara cepat dan tepat “ungkapnya.
Merealisasikan Tumpukan Buku Penelitian Menjadi Sebuah Wujud Nyata
Dalam seminar Transplantation yang juga merupakan salah satu rangkaian acara peringatan 95 Tahun Pendidikan Dokter Di Surabaya, Prof. Dr. Amin Soebandrio, dr., Sp.MK Staff Deputi Bio Pengembangan SIPTEKNAS Kementerian Riset dan Teknologi melalui presentasinya yang berjudul “Arah Kebijakan Penelitian Di Indonesia” memaparkan tentang sejauh mana pemanfaatan penelitian yang sudah dilakukan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Beliau mengatakan saat ini jumlah dosen di Indonesia adalah sebanyak tiga belas ribu orang dan delapan ribu orang peneliti, hal tersebut mengidentifikasikan bahwa jumlah penelitian yang dihasilkan sangat banyak dan bervariasi. Namun ironisnya dari sekian banyak hasil penelitian yang sudah dilakukan hanya berakhir menjadi tumpukan buku laporan penelitian tanpa adanya realisasi hasil penelitian.
Saat ini Pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 200 triliyun untuk mendukung program penelitian di Indonesia, dengan perhitungan pemerintah menyediakan sepuluh ribu paket riset dengan dana sebesar 100 juta bagi setiap dosen perguruan tinggi negeri, dan delapan ribu paket riset untuk peneliti di lingkungan LIPI, BPPT, juga badan penelitian dan pengembangan berbagai instansi untuk mencapai agenda riset nasional.
Di lain sisi, hal yang dipermasalahkan sejauh ini adalah sejauh mana pemanfaatan hasil penelitian selama ini,apakah sudah dapat diaplikasikan secara nyata untuk kepentingan masyarakat, atau hanya sebatas pada bentuk laporan penelitian saja.
menanggapi hal tersebut prof. Amin menyampaikan bahwa penyebab ketidak efektifan hasil riset di Indonesia adalah karena sejauh ini proyek penelitian yang diajukan hanya sebatas pada minat peneliti saja (Individu), sehingga berdampak pada tidak terjalinnya komunikasi yang baik antar peneliti.
Untuk itu, tambahnya, pada tahun 2010,pemerintah akan menggunakan system “Semi Top Down” dimana pemerintah yang akan menentukan produk atau target yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan diharapkan dapat dikerjakan secara bersama-sama antar dosen atau peneliti dalam bentuk Teamwork Sehingga diharapkan dalam kurun waktu tiga sampai lima tahun kedepan tujuan tersebut dapat terealisasi secara tepat dan maksimal, serta menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
Ditambahkan bahwa, dari setiap perguruan tinggi diharapkan mampu mengembangkan berbagai bentuk keunggulan yang dimiliki, sehingga menjadi sebuah program unggulan Perguruan tinggi yang pantas disebarluaskan dan direalisasikan untuk kepentingan masyarakat, selain itu juga setiap perguruan tinggi diharapkan mampu menguasai dan mengenali apa yang sebenarnya dibutuhkan dilingkungan sekitar perguruan tinggi, sehingga memudahkan setiap Perguruan tinggi untuk menentukan sebuah produk yang dibutuhkan masyarakat.
(Mo)
| < Prev | Next > |
|---|





