| 1856 | Dari angkatan tersebut yang lulus 11 orang dan diperbolehkan menggunakan titel "Dokter Jawa". Mereka memperbanyak jumlah juru cacar di daerah yang digunakan juga untuk membantu tugas-tugas ringan dokter militer. | |
| 1856 | Sekolah Dokter Jawa terbuka untuk murid yang berasal dari Sumatera Tengah dan Sulawesi Utara. Dr. P. Bleeker yang belum puas pada pelaksanaan dan hasil pendidikannya mengusahakan perbaikan kurikulum Sekolah Dokter Jawa hingga menghasilkan dokter yang mampu menjalankan praktek umum. | |
| 1864 | Lama Pendidikan Sekolah Dokter Jawa dijadikan 3 th. Pendidikannya meliputi 27 mata pelajaran, siswa baru yang diterima lebih banyak. Melihat lulusan Sekolah Dokter Jawa ternyata intelegen dan berbakat baik, maka akhirnya ia berhasil mengarahkan pendidikan dokternya menjadi lebih baik lagi. | |
| 1875 | Lama pendidikan dokter menjadi 7 tahun dan dibagi menjadi 2 tahun bagian persiapan dan 5 tahun bagian kedokteran. Bahasa Pengantarnya adalah Bahasa Belanda. Siswa yang diterima sebagai eleve hanya lulusan SD pemerintah atau ujian masuk bila tidak memiliki pendidikan pendahuluan dan berumur 14-18 tahun. Jumlah eleve sebanyak 100 orang. Gelar setelah lulus : "Inlandsch Geneesen Heelkundige". Sejak itu mutu lulusan Dokter Jawa lebih baik dan dipercaya menjalankan tugas-tugas kedokteran yang lebih luas. Mereka mulai memiliki rasa percaya diri yang besar dan masyarakat menghargainya sebagai dokter sesungguhnya. | |
| 1881 | Lama pendidikan dokter diperpanjang menjadi 9 tahun dengan tahap 3 tahun bagian persiapan dan 6 tahun bagian kedokteran. Siswa yang diterima sebagai eleve hanya lulusan SD pemerintah (ELS). Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Belanda dan Bahasa Jerman mulai diajarkan mengingat adanya buku pegangan dalam Bahasa Jerman. | |
| 1893 | Majalah Kedokteran yang pertama diterbitkan. Dalam jangka waktu sekitar setengah abad, pendidikan dokter di Jawa mengalami kemajuan cukup pesat. Hal tersebut dapat terlaksana berkat : | |
| - | Para pengajarnya terdiri dari tenaga-tenaga mampu dan memenuhi persyaratan dan mereka tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai. | |
| - | Kurikulum yang semula dianggap terlampau berat, akhirnya lebih diarahkan sesuai dengan kebutuhan. | |
| - | Para siswa yang kemudian terpilih dan bertahan, ternyata sangat berbakat, rajin dan tekun belajar | |
| Berhasillah cita-cita Belanda mendidik "dokter-dokter kelas dua" yang tingkatannya lebih rendah dari mereka. Dr. H.F. Roll sebagai tokoh kedua yang memimpin sekolah tersebut berhasil membangun sekolah baru di dekat rumah sakit militer. | ||
| 1902 | Nama Sekolah Dokter Jawa menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandsche Artsen). Lama pendidikannya menjadi 8 th, terbagi menjadi 2 th bagian persiapan dan 6 tahun bagian kedokteran. Hak praktek ditambah dengan ilmu kebidanan. Penerimaan eleve baru ditingkatkan menjadi 150 orang dan terbuka bagi pemuda dari luar Jawa. Lulusan STOVIA bertitel "Inlandsch Arts" diijinkan melakukan "geneesheel en verlos-kunde" dan berhak sebagai "apotheek-houndend geneesheer". | |
| 1913 | Nama sekolah diganti lagi menjadi STOVIA. Lama pendidikan menjadi 10 th, terbagi menjadi 3 th bagian persiapan dan 7 th bagian persiapan. Mata pelajaran meliputi premedik, preklinik dan klinik. Siswa berasal dari sekolah rendah pemerintah ; lulusan MULO langsung diterima pada STOVIA tingkat III Bagian Persiapan, sedangkan lulusan HBS (Hogere Burger School) V dan AMS (Algemne Middelbare School) B langsung di tingkat II Bagian Kedokteran. | |
| < Prev | Next > |
|---|
Fakultaria 




