
Gedung NIAS (1913)
Jl. Kedungdoro 38 Surabaya
Tempat Pendidikan dokter pertama
SURABAYA
Jl. Kedungdoro 38 Surabaya
Tempat Pendidikan dokter pertama
SURABAYA
Sejarah pendidikan dokter di Surabaya merupakan satu rangkaian dari pendidikan dokter yang ada di Indonesia pada jaman penjajahan Belanda dan Jepang, sehingga perlu diungkapkan latar belakang didirikannya pendidikan dokter di jaman penjajahan Belanda. Pada tahun 1847, Banyumas terserang wabah cacar dengan hebat sekali dan kejadian tersebut menyadarkan pemerintah Belanda, bahwa jumlah tenaga dokternya terbatas, terutama dokter-dokter militernya tidak mungkin dapat mengatasi musibah tersebut, lebih-lebih dengan banyaknya epidemi yang timbul di berbagai daerah. Pemerintah Belanda meminta pendapat Dr. W. Bosch, Kepala Dinas Kesehatan, tentang kemungkinan dapatnya diberi petunjuk-petunjuk tertulis untuk para kepala desa dalam Bahasa Jawa dan Melayu, Yang berisi saran-saran dan informasi penting untuk menanggulangi penyakit dengan memanfaatkan obat-Obat tradisional dan obat-obat sederhana yang tidak mahal. Permintaan pemerintah tersebut oleh Dr. W. Bosch dipergunakan untuk melaksanakan rencana yang telah lama dipersiapkannya, yaitu membentuk korps kesehatan yang terdiri dari tenaga-tenaga pribumi.Pada tanggal 9 dan 11 Oktober 1847 diusulkannya kepada pemerintah untuk mendidik pemuda-pemuda Jawa yang berbakat menjadi ahli-ahli praktek kesehatan. Usul diterima dan untuk keperluan tersebut Pemerintah Kolonial Belanda bermaksud mendidik juru cacar yang terampil dan terdidik guna diperbantukan di dokter militernya.
Dengan Keputusan Pemerintah Bo. 22 pada tanggal 2 Januari 1849 maka ditetapkan sebagai berikut :
1.Akan dididik 30 orang pemuda Jawa yang berasal dari keluarga baik (fatsoenlijke Javansche families) sebagai ahli kesehatan dan vaksinatur (juru cacar).
2.Pendidikan dilaksanakan di rumah-rumah sakit militer di Jawa dan ditetapkan di Jatinegara, Semarang dan Surabaya .
3.Murid-murid harus dapat membaca dan menulis dalam Bahasa Jawa dan Melayu serta berumur sekurang-kurangnya 16 tahun.
4.Lama pendidikan 2 tahun.
1.Akan dididik 30 orang pemuda Jawa yang berasal dari keluarga baik (fatsoenlijke Javansche families) sebagai ahli kesehatan dan vaksinatur (juru cacar).
2.Pendidikan dilaksanakan di rumah-rumah sakit militer di Jawa dan ditetapkan di Jatinegara, Semarang dan Surabaya .
3.Murid-murid harus dapat membaca dan menulis dalam Bahasa Jawa dan Melayu serta berumur sekurang-kurangnya 16 tahun.
4.Lama pendidikan 2 tahun.
| < Prev |
|---|
Fakultaria 





Comments
kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan??
tolong di balas..
trima kasih..
trima kasih...
waalaikumsalam...
RSS feed for comments to this post.